Tak Terbalaskan
Kurang hanya dengan 3 bulan saja aku sudah tidak menjadi seorang murid SMA, Tak terasa sudah 3 tahun berlalu banyak kisah yang amat berarti dalam hidupku, baik kisah bahagia maupun kisah yang penuh derai air mata dan ketakutan. berpisah dengan sahabat serta rekan yang telah berjuang bersama mungkin terasa amat menyedihkan, namun inilah kehidupan, Terkadang kita harus melakukan pertemuan dan akan juga melakukan perpisahan , namun percayalah bahwa tuhan telah menyiapkan rencana yang jauh lebih indah untukmu di kemudian hari
Entah apa sesuatu yang aneh dan mengganjal saat ini aku berpapasan dengan Zafier, mungkin karena aku harus berpisah dengannya dan menjalani hari-hariku tanpa dirinya. Aku dan Zafier adalah teman sekelas sejak kelas 1, ia lah yang selalu menghiasi hari hariku, senyumnya bagaikan magnet yang selalu membuat aku terpaku, sebenarnya aku ingin lebih dekat tidak hanya sebatas teman, namun aku tak ingin menghancurkan pertemanan yang sudah lama terjalin selama ini hanya karena cinta.
"tak terasa sudah 3 tahun berlalu, rasanya waktu begitu cepat berputar” ujarku
“iya, rasanya baru kemarin kita bertemu” sahutnya dengan raut wajah sedih
“setelah ini kamu mau ngelanjutkan pendidikan kemana?” tanyaku
“rencananya aku mau ngelanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Malang, kalau kamu sendiri gimana?” tanya ku
“Rencananya sih aku mau ngelanjutin pendidikan di bandung” jawabnya.
“nampaknya sebentar lagi akan turun hujan” kataku
“iya, lebih baik kita lebih mempercepat perjalanan kita” sahutnya.
Dan hal yang aku katakan akhirnya terjadi, hujan begitu deras melanda kota ini. Kami pun berlari mencari tempat berteduh, akhirnya kami berteduh di salah satu halte
kau kedinginan ya?” tanya nya kepadaku
“iya,” jawab ku dengan suara gemetar
Lalu dia lepaskan jaket yang dia kenakan dan dia selendangkan di tubuhku, aku tak bisa membayangkan menjalani hari-hariku tanpa hadirnya walaupun selama ini ia hanya menganggapku sebagai seorang teman wanita, namun hati ini merasa lebih nyaman bersama dia
Setelah lama tidak ada bus yang lewat maka dia putuskan untuk membeli payung di salah satu toko dan pulang dengan payung itu tak terkecuali memayungiku disampingnya dan berkata
"Aku saja yang memegang payung kamu kan kedinginan udh diem aja" sambil terus berjalan bersama di bawah derasnya hujan
Sebenarnya aku masih ingin bersamanya untuk waktu yang lebih lama, namun terkadang waktu begitu tak adil, disaat kita bersama dengan orang yang kita sayangi waktu berjalan begitu cepat dan saat kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi waktu berjalan begitu lambat
“aku punya sesuatu untukmu” ujarku sembari tersenyum kecil kepadanya “sesuatu apa?” jawabnya
Dikeluarkan sebuah kalung liontin dari kantungnya, sebenarnya kalung itu ingin kuberikan kepadanya saat ulang tahunnya yang ke-18 bulan depan, tapi karena bulan depan aku harus pergi ke Bandung, liontin ini aku serahkan padanya sekarang ,batinnya
“wah, indah sekali, ucapku, tapi kenapa kau memberikan ini padaku,
"setahu ku hari ini aku tidak berulang tahun” sahutku dengan wajah bingung
“aku berharap dengan kalung itu kau dapat mengingatku di setiap kerinduanmu, jagalah kalung itu sebaik mungkin sebagaimana kita menjaga pertemanan kita” ujarnya
“maaf, tapi aku tak bisa menerima semua ini” jawabku.
Dia pun terkejut dengan jawaban yang terlontar dari mulutku, bagiku ini seperti sebuah tamparan yang amat pahit
“kenapa, apa kau tak suka dengan kalung ini” ujarku dengan nada penuh kecewa
“bukannya tak dusa, aku suka kalung ini, tapi dengan menjadi bagian dalam hidupmu telah memberikanku sebuah kenangan yang tak akan pernah kulupakan,jawabnya
“tapi aku menyayangimu lebih dari seorang teman, sekian lama aku memendam rasa ini dan kukira ini adalah saat yang tepat untuk mengatkan perasaanku yang sejujunya, aku mencintaimu” ujarnya
“aku juga mencintaimu , tapi cintaku tak lebih dari seorang teman, kau sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, tak lebih (sambil menggenggam tanganku)
“baiklah jika ini keputusanmu, aku tidak akan memaksa” ucapnya
“kau adalah teman terbaik dalam hidupku, dan selamanya kau akan terus menjadi teman terbaikku” ucapku
Walaupun berat, dia seperti mencoba untuk menerima jawabanku dengan lapang dada, terkadang cinta memaksa kita untuk menerima semua kenyataan yang ada.
Hujan nampaknya sudah reda, aku dan Zafier pun dengan tidak sadarkan sudah dekat dengan rumah
Aku pun hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan sebiji kata pun dari mulutku, aku pun hanya bisa melempar senyum padanya
“ya sudah, aku pamit dulu ya Zaf” ujarku “iya, Hati hati di jalan ya” sahutnya
Aku pun melangkah mendekati pagar rumahku, di setiap langkahku pergi menjauhinya terasa begitu berat, namun aku coba melupakan kejadian tadi, melepas orang yang kita cintai memang menyakitkan, namun tak semua yang dicintai harus dimiliki.
Slebeww
BalasHapusSakitt huhuhu
BalasHapusπππ
BalasHapusMantapp
BalasHapusSabar ya π
BalasHapus